COP Sebut Pembantaian Orangutan Terorganisir

media_indonesiaJAKARTA–MICOM: Centre for Orangutan Protection (COP) menemukan empat kerangka orangutan di dalam kawasan konsesi PT Sarana Titian Permata, anak  perusahaan Wilmar Group di Kalimantan Tengah. Salah satunya masih tersangkut di atas pohon. Orangutan itu diduga mati karena ditembak. Temuan tersebut  telah dilaporkan ke Kementerian Kehutanan pada 6 September 2011.Sebelumnya, pada 7 Juni 2010, COP mengevakuasi 1 bayi  orangutan yang dipelihara warga Desa Bangkal, Kab. Seruyan, Kalteng.  Menurut pemeliharanya, induk orangutan sudah dibunuh saat land clearing di kawasan konsesi PT Rimba Harapan Sakti (RHS), anak  perusahaan Wilmar Group juga.Setidaknya 75 orangutan terpaksa dievakuasi sebagai dampak pembabatan  hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit anak-anak perusahaan Wilmar Group di Kalimantan Tengah seperti PT Mustika Sembuluh, PT  Kerry Sawit Indonesia dan PT Sarana Titian Permata. Continue reading…
Share

Hutan Merapi Butuh Puluhan Tahun untuk Pulih

Minggu, 04 Desember 2011 08:27 WIB
merapi
media_indonesiaYOGYAKARTA–MICOM: Revegetasi hutan di kawasan Gunung Merapi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, membutuhkan waktu puluhan tahun. Hal itu dikata Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Tri Wibowo Yuwono. Continue reading…
Share

Aktivis Ajukan Fakta Kerusakan Hutan ke Presiden SBY

media_indonesiaJAKARTA–MICOM: Perusakan hutan di Indonesia terus terjadi, kendati moratorium (penghentian sementara) izin baru untuk pembukaan hutan diberlakukan. Pemerintah diminta untuk menelaah kembali izin-izin penebangan hutan yang telah dikeluarkan dan menerapkan kebijakan deforestasi nol.”Enam bulan setelah moratorium (penghentian sementara) izin baru untuk pembukaan hutan diberlakukan di Indonesia, perusakan hutan masih terjadi. Kami menemukan bukti dan menyaksikan langsung bagaimana Asia Pulp and Paper (APP) meremehkan komitmen presiden SBY dengan terus membabat hutan alam dan gambut, dokumentasi fakta yang kami kumpulkan selama perjalan Tur Mata Harimau pada bulan lalu di Riau, Jambi dan Sumatera Selatan secara gamblang menunjukkan hal tersebut,” ujar juru kampanye hutan Greenpeace, Zulfahmi, di Jakarta, Kamis (24/11).Dia mengatakan, selama satu bulan lebih, aktivis Greenpeace, WBH, WARSI, dan WALHI melakukan Tur Mata Harimau di Sumatra untuk menjadi saksi dan mendokumentasikan berbagai fakta perusakan hutan sekaligus mengajak masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi dalam upaya penyelamatan hutan alam dan gambut Indonesia.

Continue reading…

Share

Inkonsistensi Inpres No.10 Tahun 2011 Terhadap Perbaikan Tata Kelola Kehutanan Indonesia

inkonsistensi-inpres-no-10-tahun-2011-terhadap-perbaikan-tata-kelola-kehutanan-indonesiaMoratorium yang ditunggu-tunggu akhirnya mendapatkan juga dasar hukumnya melalui terbitnya Inpres No.10 tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. Terbitnya instruksi tersebut tidak lepas dari perdebatan dan pergulatan panjang melalui berbagai lokakarya dan diskusi yang digelar sebelum penerbitan instruksi tersebut. Menandakan banyak pihak yang menaruh perhatian dan tidak sedikit pihak-pihak yang berharap melemahkan substansi dari inpres tersebut. Upaya tersebut berhasil, terbukti dengan penerbitan Inpres yang mundur 4 bulan dari waktu yang seharusnya. Menunjukan sekali lagi bahwa “niat” Indonesia untuk memperbaiki tata kelola hutan melalui penundaan izin, belum bisa dikatakan niat tulus.

Continue reading…

Share